Mengenal Masjid Lama Gang Bengkok Di Medan: Berdiri Tahun 1874, Dibangun Saudagar Tionghoa

Posted on

MEDAN – Masjid Lama Gang Bengkok merupakan masjid yang snagat bersejarah di Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid yang terletak di Jalan Masjid Kelurahan Kesawan Kecamatan Medan Barat ini merupakan masjid pertama yang berdiri sebelum adanya masjid raya.

Uniknya masjid ini dibangun oleh saudagar kaya keturunan Tionghoa bernama Kapten Chong A Fie.

Bangunan masjid ini pun berarsitektur 3 budaya yang menunjukkan bahwa tingginya toleransi masyarakat Kota Medan dalam beragama.

Hal itu terlihat dari amatan Medan dari bagian atap masjid yang semakin melebar dan melengkung layaknya kelenteng.

Kemudian Masjid Bengkok yang bercorak warna kuning yang merupakan ciri khas melayu.

Terakhir corak masjid yang warna kuning ini dipadupadankan dengan warna hijau yang merupakan simbolis keislaman.

Saat dijumpai menurut Sekretaris BKM masjid Bengkok, Haji Muchlis Tanjung menyatakan bahwa selain adanya arsitektur yang menandakan toleransi yang tinggi, masih banyak hal unik di Masjid Bengkok ini.

” Jadi masjid ini merupakan mesjid pertama di Kota Medan yang berdiri sejak tahun 1874. Dimana tanah masjid ini merupakan tanah wakaf dari datuk kesawan bernama muhammad Ali,” ucapnya.

Kemudian setelah tanah diwakafkan, dikatakan Muchlis bahwa tiba-tiba ada saudagar kaya keturunan Tionghoa yang membangun penuh masjid ini.

” Jadi memang Chong A Fie ini terkenal dengan kedermawanannya yang suka membangun tempat ibadah dan bangunan ini ful resmi pakai uangnya sendiri,” cerita Muchlis kepada Medan, Minggu (3/4/2022).

Namun seiring berjalannya waktu bangunan ini diakui Muchlis ada yang diubah.

“Kalau dari yang lain gak ada di ubah, hanya pintu saja karena dulu pintunya masih kayu sementara untuk atap dan yang lain-lain tidak tapi kita lakukan penambahan perluasan bangunan,” ucapnya.

Disinggung mengenai nama Masjid Lama Gang Bengkok, diakui Muchlis itu bukan nama yang diberikan oleh saudagar kaya asal Tiongha tersebut.

“Bukan, jadi dulu itu ini jalan sempit dan gangnya bengkok makanya dinamakan Masjid Lama Gang Bengkok tapi sekarang jalannya sudah diperbesar,” ucapnya.

Selain bercorak tiga budaya, di samping masjid ini pun ada pemakaman pemiliki wakaf tanah dan Imam Masjid pertama Masjid Bengkok ini.

“Namun seiring perkembangan waktu ada beberapa sanak saudara pemilik wakaf tanah yang dimakamkan disini,” ucapnya.

Diakui Muchlis menjelang ramadan, pemakaman tersebut sangat ramai dikunjungi dari beberapa kalangan alim ulama.

“Kemarin itu banyak yang mendoakan sebelum puasa dan makam tersebut sudah menjadi satu diantara sejarah juga disini,” ucapnya.

Disinggung mengenai puasa ramadan di tahun ini, Muchlis mengaku pihaknya akan mengadakan 100 bubur melayu gratis untuk masyarakat yang melaksanakan solat magrib di masjid ini.

“Untuk tarawih kita 23 rakaat, dan pastinya akan ada tadarus setelah solat tarawih tersebut,” ucapnya.

Untuk itu ia menghimbau kepada masyarakat agar yang berkunjung ke masjid untuk mematuhi protokol kesehatan.

“Mudah-mudahan selama bulan suci ramadan kita dilindungi dari segala macam penyakit yang membahayakan,” ucapnya.

Dibangun di atas tanah wakaf

Masjid Lama Gang Bengkok dibangun di atas tanah wakaf Datuk Muhammad Ali atau yang juga dikenal sebagai Datuk Kesawan.

Dibangun oleh saudagar kaya etnis Tionghoa, Tjong A Fie pada tahun 1885 hingga selesai.

Hingga kini, usianya berkisar 135 tahun sejak pertama kali dibangun.

Saat pembangunan masjid selesai, Muchlis mengatakan, Tjong A Fie kemudian menyerahkannya kepada Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alam Shah yang merupakan Sultan Kesultanan Deli yang ke-8 dan juga merupakan putra sulung Sultan Osman Perkasa Alam Shah.

Karena kesulitan mengurusi masjid yang terletak tidak begitu dekat dengan tempat tinggalnya, Mahmud Al Rasyid menyerahkan tanggung jawab kepengurusan masjid kepada penasihat spiritualnya, Tuan Syekh Muhammad Yakub.

Muchlis menerangkan bahwa bentuk bangunan Masjid Lama Gang Bengkok ini memiliki kombinasi dari beberapa lintas budaya yakni Cina, Melayu, dan Persia.

Terlihat jelas dari atap masjid yang tidak berbentuk seperti kubah, namun mirip kelenteng pada masyarakat Tionghoa.

“Seperti kita lihat masjid ini unik, karena atapnya tidak berbentuk seperti kubah, melainkan menunjukkan ciri khas Cina yang seperti stap kelenteng. Warna kuning menunjukkan ciri khas melayu dan hijau yang melambangkan Islam. Sementara bangunan dalamnya terdapat nuansa Persia,” katanya.

Terdapat beberapa perubahan pada Masjid Lama Gang Bengkok.

Muchlis mengatakan meskipun dilakukan beberapa renovasi terhadap material bangunan, pihaknya tidak ingin mengubah bentuk masjid sedikitpun.

“Paling yang berubah materialnya saja. Seperti lantai sudah keramik, asbes yang lama kini sudah berganti flapon, karena sudah berumur seratus tahun tentu perlu ada perbaikan. Dan ada sedikit perluasan teras untuk menambah kapasitas menampung jamaah khususnya saat salat Jumat,” ujar Muchlis.

Ia mengatakan, sebagai pengurus masjid dirinya merupakan generasi ke empat dari Tuan Syekh Muhammad Yakub.

Ia bersama para pengurus masjid lainnya menjadi pihak yang memfasilitasi para jamaah agar tetap nyaman beribadah di masjid ini.

“Kalau saya sudah generasi ke empat dari Tuan Syekh Muhammad Yakub, kalau kata lainnya itu cicit lah. Tapi kami mengurus masjid bukan berarti yang menguasai ataupun memiliki, hanya memfasilitasi bagaimana agar jamaah yang beribadah di sini merasa nyaman,” tuturnya.

Penulis: Anisa Rahmadani

Artikel ini telah tayang di -Medan.com dengan judul Masjid Pertama di Kota Medan, Ternyata Dibangun oleh Keturunan Warga Tionghoa

dan

Melihat Keindahan Masjid Lama Gang Bengkok, Bukti Toleransi Umat Beragama di Kota Medan